Advertisement

Pertumbuhan Ekonomi di Banten Tidak Berdampak pada Penurunan Angka Kemiskinan

Nasional —Kamis, 8 April 2021 10:56 WIB
Editor: Yayat
    Bagikan:  
Pertumbuhan Ekonomi di Banten Tidak Berdampak pada Penurunan Angka Kemiskinan
Kepala Badan Pusat Statistik BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana (Luthfi)


SERANG, POSKOTA.CO.ID-- Geliat pertumbuhan berbagai sektor perekonomian di Banten pada triwulan pertama tahun 2021 ini mulai mengalami peningkatan, terutama pada sektor ekspor impor.

Tercatat nilai ekspor Banten pada Februari 2021 mengalami peningkatan sebesar 5,48 persen atau US$978,70 juta dibandingkan bulan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada periode tahun 2020, peningkatan ekspor Banten saat ini melejit lebih jauh sebesar 14,73 persen, padahal pada Februari 2020, Banten belum terserang wabah Covid-19.

"Artinya situasinya masih normal berjalan seperti biasa," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Adhi Wiriana, Kamis (8/4/2021).

Komoditi ekspor yang sangat berperan besar itu ditopang oleh jenis komoditi non migas, terutama dari golongan barang alas kaki yang nilai ekspornya mencapai USD193,90 juta, disusul kemudian plastik dan barang dari plastik sebesar USD83,28 juta dan yang ketiga golongan besi dan baja sebesar USD73,83 juta.

"Persentasi nilai ekspor produk alas kaki ini paling mendominasi dibanding produk lainnya yakni sebesar 20,68 persen. Padahal industri sektor ini menjadi yang sangat terpukul dari dampak Pandemi Covid-19," jelasnya.

Akan tetapi, meskipun geliat perekonomian sektor ekspor mengalami peningkatan yang cukup signifikan, angka kemiskinan di Banten masih tetap konsisten di angka semula yakni 6,63 persen.

"Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk miskin sebanyak 81,65 ribu orang dari 775,99 ribu orang pada Maret 2020 menjadi 857,64 ribu orang pada September 2020," ungkap Adhi.

Adhi melihat hal tersebut dikarenakan sektor peningkatan ekspor itu berasal dari industri yang notabenenya merupakan perusahaan besar Penanaman Modal Asing (PMA).

"Sehingga dampaknya hanya kepada produktivitas tenaga kerja saja, sementara pada sektor kemiskinan tidak berdampak langsung," ujarnya. (Luthfillah/Yy)

Editor: Yayat
    Bagikan:  

Berita Terkait