Advertisement

Curhat Guru Mengajar Daring di Pedalaman, Susah Sinyal Hingga Kucing-Kucingan dengan Wartawan Gadungan

Serang —Rabu, 7 April 2021 17:25 WIB
Editor: Yayat
    Bagikan:  
Curhat Guru Mengajar Daring di Pedalaman, Susah Sinyal Hingga Kucing-Kucingan dengan Wartawan Gadungan
Ida Farida, Kepsek SDN Tanjung Ilir, Kecamatan Taktakan yang harus memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal internet (Luthfi)

SERANG, POSKOTA.CO.ID-- Pembelajaran daring yang sudah dilakukan selama dua tahun terakhir masih menemukan berbagai persoalan.

Terlebih bagi mereka yang mengajar di pedalaman dan pegunungan. Kendala susah sinyal masih menjadi faktor utama yang menghambat proses pembelajaran daring.

Sebagai alternatifnya, mereka menggunakan metode pembelajaran di Luar Jaringan atau biasa disebut Luring.

Dengan segala keterbatasannya, pembelajaran Luring juga hanya bisa dilakukan dengan pemberian tugas, untuk kemudian di hari yang sama atau keesokan harinya dikumpulkan.

Ida Farida contohnya. Seorang pengajar yang juga Kepala Sekolah (Kepsek) di SDN Tanjung Ilir, Kecamatan Taktakan yang lokasinya berada di pedalaman atas gunung.

Ida mengaku metode pembelajaran yang sering dilakukan adalah Luring serta mengumpulkan siswa dalam skala terbatas.

Kedua metode itu ia lakukan, karena untuk menerapkan pembelajaran daring infrastruktur di sekolahnya tidak memungkinkan.

"Kalau daring itu kami terkendala sinyal, susah banget di sini. Bahkan kadang ada, kadang tidak. Kalau mau dapet sinyal harus naik pohon dulu. Makanya kalau pembelajaran daring sering terputus, tidak kondusif," ceritanya, Rabu (7/4/2021).

Selain itu, lanjut Ida, sebagian besar siswanya tidak memiliki gadget sebagai media pembelajaran. Dari total siswa yang ada di sini 109 hanya 8 siswa yang mempunyai gadget.

"Selebihnya tidak punya. Kalaupun ada punya orangtuanya atau saudaranya, yang ketika pembelajaran daring atau luring berlangsung, handphone itu dibawa kerja ama yang punya," jelasnya.

[page-pagination]

Hal yang sama juga dialami Kepsek SDN Sayar, Nina Rostiana. Letak sekolahnya yang berada tepat di atas gunung, persoalan jaringan sinyal menjadi kendala utama dalam melaksanakan pembelajaran daring.

"Selain itu juga banyak siswa yang tidak mempunyai hp. Dari total 265 siswa, hanya 25 persen saja yang mempunyai hp, selebihnya tidak punya," katanya.

Untuk mengantisipasi efektivitas belajar itu, lanjut Ina, pihaknya melakukan metode pembelajaran home visit dengan pembelajaran kelompok terbatas antara 3-5 siswa dalam satu kelompoknya.

"Meskipun home visit, tapi Prokes tetap menjadi hal yang prioritas kami utamakan," ungkapnya.

Hal itu dilakukan Ina, mengingat materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa itu harus benar-benar bisa dipahami.

"Makanya kami kelompokkan, antara yang sudah bisa membaca dan belum. Supaya materi pembelajaran yang disampaikannya bisa maksimal," ucapnya.

Lain halnya dengan Inah Hermina Plt. Kepsek SDN Drangong 1. Persoalan jaringan tidak menjadi hambatan bagi Inah untuk menjalankan pembelajaran daring.

Namun persoalan pelik lain yang dihadapinya adalah banyaknya wartawan gadungan yang sering datang ke sekolahnya.

Kedatangan mereka bukan untuk sekedar wawancara, tetapi mencari masalah dan akhirnya meminta sejumlah uang imbalan.

"Kalau tidak dikasih, ancamannya akan diberitakan. Jadi saya takut. Itu sering datang pak ke sekolah wartawan seperti itu.

[page-pagination]

"Termasuk pada saat kami melaksanakan sekolah offline sebagian. Itu kami kucing-kucingan dengan wartawan, karena kalau sampai mereka tahu pasti datang dan mempermasalahkannya," jelasnya.

"Kalau kaya perang mah, ini perang. Kucing-kucingan, saling nyumput," ujarnya.

Namun ada hal lain juga yang cukup menggelitik bagi dirinya, yakni setiap ulangan belajar, itu yang mengisi bukan siswanya, tetapi orang tuanya.

Hal itu diketahui dari tulisan jawaban yang diberikan kepada setiap guru. Anak kelas 4 SD ko tulisannya sudah bagus

Tapi setelah kemudian kami jelaskan akhirnya mereka memahami. Namun memang persoalannya ketika pembelajaran daring itu siswanya yang sulit untuk belajar, apalagi mengerjakan soal.

"Kebanyakan alasannya siswanya susah mengerjakan soal, jadi diganti Mae orangtuannya," jelasnya. (Luthfillah/Yy)

Editor: Yayat
    Bagikan:  

Berita Terkait