Advertisement

Makam Nusantara di Lawang Abang Sering Dijadikan Tempat Pesugihan

Wisata —Minggu, 4 April 2021 15:54 WIB
Editor: Yayat
    Bagikan:  
Makam Nusantara di Lawang Abang Sering Dijadikan Tempat Pesugihan
Selain untuk berziarah, makan di Lawang Abang juga kerap dijadikan tempat permintaan sesuatu (Luthfi)

SERANG, POSKOTA.CO.ID-- Selain artefak, peninggalan sejarah berupa makam orang-orang berpengaruh pada jaman dahulu juga banyak ditemukan di sekitar Banten Lama.

Salah satunya puluhan makan para ulama jaman dahulu yang ada di Lawang Abang, Kelurahan Kenari, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Puluhan makam para ulama dari berbagai daerah ini berkumpul dalam satu kawasan yang disebut makam nusantara.

Di dalam makam nusantara ini, puluhan kuburan berjejer dengan berbagai macam bentuk nisan, dari mulai yang berbentuk benteng, yang diyakini sebagai ulama asal Bali.

Selain itu ada juga nisan yang berbentuk Johor, yang diyakini sebagai kuburan seorang ulama asal Aceh. Serta berbagai macam bentuk nisan lainnya juga terdapat di makam nusantara ini.

Namun di ujung kompleks makan, ada sebuah makam tunggal yang dibangun lebih bagus karena sering diziarahi oleh para tamu yang datang. Makam itu diyakini sebagai makam pangeran Purbalingga.

Dedi (48) salah seorang petugas kawasan makan Lawang Abang mengatakan, setiap hari siang atau malam tempatnya ini sering didatangi oleh para tamu dari jauh, baik yang hanya untuk silaturahmi maupun mempunyai hajat tertentu.

"Kalau yang hanya silaturahmi biasanya tidak lama, hanya datang, istirahat lalu pulang," katanya, Minggu (4/4/2021).

Akan tetapi, lanjut Dedi, bagi mereka yang mempunyai hajat tertentu, biasanya datang ke sini lebih lama. Ziarah dulu, kemudian baca doa-doa. Biasanya dari malam sampai pagi.

"Saya juga ga terlalu mengetahui tujuan mereka datang ke sini apa selain berziarah, karena memang niatan itu kan dari hati masing-masing," ujarnya.

[page-pagination]

Akan tetapi, dalam realitanya memang ada yang mencari kedamaian di sini, mencari dan memperlancar jabatan, sampai mencari pesugihan.

"Lebih sering sih yang saya dapati ini mereka yang ingin mendapatkan jabatan," ucapnya.

Dedi mengakui, para peziarah di makan Kramat ini memang sering menemukan benda pusaka, seperti keris, surat dan batu. Benda-benda itu biasanya mendatangi bagi peziarah dari kalangan ulama tertentu saja.

"Kaya belum lama ini, ada seorang ulama dari Sukabumi yang berziarah ke sini, ia kemudian mendapatkan sepucuk surat dan batu kecil dari pinggir makam ulama yang ia ziarahi," ceritanya.

Surat itu, tambah Dedi, berbahasa Arab yang setelah dibacakan intinya adalah ucapan terima kasih telah berkunjung ke makam ini.

"Setiap benda-benda pusaka yang ditemukan tidak dibawa pulang, tetapi dikumpulkan di sini," jelasnya.

Dedi mengakui, kawasan makan Lawang Abang ini baru tiga tahun ditata rapih seperti ini. Dahulunya tak terurus dan banyak tumbuhan liar.

Sampai saat ini, Dedi bersama teman-temannya yang lain sedang melakukan pembersihan sejumlah makan para pendahulu yang ada di sekitar kawasan Lawang Abang ini.

"Sekitar Lawang Abang ini memang sawah. Tapi diantara sawah-sawah itu banyak makan para ulama serta kasepuhan. Bahkan di ujung barat Lawang Abang, terdapat reruntuhan masjid. Itu juga di tengah sawah," tegasnya. (Luthfillah/Yy)

Editor: Yayat
    Bagikan:  

Berita Terkait