Advertisement

Lawang Abang, Bukti Keharmonisan Hubungan Banten dengan Aceh

Wisata —Minggu, 4 April 2021 13:52 WIB
Editor: Yayat
    Bagikan:  
Lawang Abang, Bukti Keharmonisan Hubungan Banten dengan Aceh
Di Lawang Abang terdapat puluhan kuburan muslim dari berbagai daerah seperti Aceh, Kalimantan dan Bali. (Luthfi)

SERANG, POSKOTA.CO.ID-- Banten memiliki berjuta kisah. Masuknya Islam, adanya pemikir Islam yang terkenal seantero dunia, perlawanan dan pemberontakan terhadap penjajah adalah kisah yang mewarnai sejarah tanah jawara ini.

Bukti sejarah yang menguatkan hebatnya Banten dari zaman ke zaman banyak ditemui. Banyaknya bangunan bersejarah merupakan bukti bahwa Banten memiliki perjalanan panjang yang menarik.

Struktur bangunan yang diduga memiliki nilai sejarah tentang perkembangan ajaran Islam di Banten itu berada di Kampung Pangkalan Nangka, Desa Kenari, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Menurut bahasa setempat, lawang artinya pintu dan abang bermakna merah. Mungkin dahulunya bangunan itu berwarna merah atau ada makna lain.

Namun yang pasti, benda yang jika dilihat dari fisiknya masuk kategori Benda Cagar Budaya (BCB) itu diprediksi dibangun pada abad XV.

Kini bangunan dan tempat di sekitarnya banyak dikunjungi wisatawan yang tertarik dengan arsitektur bangunan dan certa di baliknya.

Di kawasan sekitar bangunan Lawang Abang, terdapat sejumlah klaster makam yang tersebar di sejumlah tempat berbentuk pulau atau “hunyur” di tengah persawahan yang membentang luas.

Deretan nisan kubur atau makam bermotif itu unik, yang diyakini berasal dari Aceh.

Beberapa nisan berdiri di atas makam dengan panjang di atas rata-rata itu berjirat, yang menandakan strata sosial. Terdapat pula sejumlah struktur bangunan yang terbuat dari susunan batu bata merah.

Secara umum bangunan itu selalu mengelilingi beberapa komplek makam dengan bentuk dan ukuran batu nisan yang sangat unik. Batu nisan itu bisa dipastikan berbahan batu andesit yang dipahat secara halus dan teliti.

[page-pagination]

Aslikah, salah seorang mahasiswa FKIP Unirta yang melakukan kajian arkeologi mengaku sangat terpukau dengan bentuk bangunan yang ada di kawasan itu. Menurutnya, perlu ada langkah dan kebijakan strategis untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah itu.

Mungkin yang harus diperhatikan adalah kajian yang lebih mendalan dan pengembangan serta pelestarian. Benda-benda itu membuktikan adanya peradaban Islam yang modern di sini pada zaman itu,” paparnya.

Sementara arkeolog sekalugus sejarawan asli Banten Ali Fadhillah mengungkapkan, situs itu sangat penting tidak hanya bagi mahasiswa. Namun juga bagi stakeholder yang menangani sejarah dan benda-benda bersejarah.

“Jika melihat fakta-fakta yang ada, maka antara Banten dan Aceh ada hubungan ekonomi dan politik pada akhir abad XV. Mungkin juga gerbang yang dinamai Lawang Abang itu dahulunya adalah dermaga tempat bersandarnya kapal-kapal niaga dari luar Banten. Ini perlu kajian dan penelitian yang lebih intensif. Saya harap, kampus (Untirta) segera berkoordinasi dengan BPCB (Balai Pelestarian Benda Cagar Budaya),” pungkasnya. (Luthfillah/Yy)

Editor: Yayat
    Bagikan:  

Berita Terkait