Kisah Guru Honorer Berupah Minim Nyambi jadi Marbot 

Rabu, 13 Oktober 2021 22:19 WIB

Share
Nurdin, seorang guru honorer di SDN Cipinang Melayu 08 Pagi yang juga menyambi sebagai guru ngaji (ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Sejak menjadi mahasiswa, Nurdin telah memilih untuk menjadi guru dengan status honorer. Sebab, upah yang minim, dia pun bisa menyambi jadi marbot masjid. Lulusan STAI Azziyadah Klender, Jakarta Timur tahun 2015 itu mengaku sudah menjadi guru honorer sejak tahun 2012, saat dirinya masih berstatus mahasiswa.

Kala itu, Nurdin mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hikmah Jatimakmur Pondok Gede, Kota Bekasi selama enam tahun, dari 2012 hingga 2018. Dia pun mengajar enam kelas dari Senin sampai Sabtu, dengan durasi mengajar empat sampai enam jam per harinya.

"Dulu saya mengajar di sekolah itu (MI Nurul Hikmah) hampir semua kelas. Soalnya cuman enam kelas pada waktu itu, saya mengajar akidah akhlak, kemudian Al-Quran Hadis, dan pelajaran fiqih," jelas Nurdin kala dihubungi Poskota.co.id, Rabu (13/10/2021).

Soal upah, dia mengaku awalnya hanya diberi gaji sebesar Rp 200 ribu per bulan. Kemudian naik sedikit menjadi Rp 400 ribu. Dia bersyukur, namun yang namanya kebutuhan tetap tak sebanding dengan upah yang diterima.

Akhirnya, pada 2013, Nurdin memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan. Di antaranya menjadi guru kelompok musik hadrah. "Saya ngajar hadrah, pada waktu itu lagi ramai-ramainya, hampir empat tim dalam seminggu, dapat uang sekitar Rp 900 ribu," katanya.

Namun sayang, hal itu hanya berlangsung selama setahun. Selanjutnya, Nurdin yang masih lajang mendapat tawaran untuk menjadi seorang merbot di masjid Baitul Asri, Jatiwaringin, Kota Bekasi pada tahun 2016.

"Karena saya sebagai perantau yang datangnya dari kampung, kemudian mau ngontrak enggak punya duit  kemudian saya istilahnya sekalian saya beramal sekalian juga saya menempati tempat yang disediakan di masjid (sebagai rumah)," jelasnya.

Dia pun mesti mengatur waktu serta peran ketika menjadi guru dan merbot masjid. "Jadi merbot itu tugasnya ngepel masjid, membersihkan lingkungan masjid, menyapu, membersihkan toilet masjid, sama imam shalat," ungkapnya.

Nurdin mengaku upah sebagai merbot sebesar Rp1,3 juta. Uang itu berasal dari iuran warga setempat. "Pendapat merbot Rp1,3 juta terus ditambah ngajar sekolah swasta Rp 400 ribu, jadi pendapatan per bulan saat itu Rp1,7 juta," ungkapnya.

Lantas, Nurdin pun juga menjadi seorang penceramah dalam acara pengajian. Salah satunya saat dia dipanggil ceramah di SDN Cipinang Melayu 08 Pagi.

Halaman
1 2 3
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler