Berlanjut, Persidangan Babi Ngepet Hadirkan Dua Orang Saksi Ahli

Selasa, 12 Oktober 2021 16:34 WIB

Share
Persidangan kasus Babi Ngepet berjalan secara daring aplikasi zoom online dengan mendengarkan keterangan saksi ahli. (foto: Angga)

"Hal hal yang berkaitan dengan keramaian cenderung akan menimbulkan keributan, tetapi keributan atau keonaran belum tentu menimbulkan kontak fisik dan kericuhan," ujar Andika kepada Ketua Majelis Hakim, Iqbal Hutabarat yang bertanya mengenai definisi dari keramaian dalam persidangan.

Prof. Andika menambahkan bahwa terdapat tiga prinsip dalam berkomunikasi di ruang publik ada prinsip kualitas dimana komunikasi harus sesuai dengan realita.

Lalu prinsip kuantitas dimana sebuah informasi tidak menimbulkan perasaan penasaran disampaikan secara tuntas dan yang terakhir prinsip cara, dimana dalam menyampaikan informasi harus sesuai dengan kultur lingkungan.

"Dalam kasus ini ketika pemberi orasi berita bohong di depan publik dan setelah melakukan hal tersebut langsung mengumumkan permohonan maaf maka deliknya sudah gugur," ungkap Andika dalam persidangan di ruang 3 pengadilan negeri Depok.

Saksi kedua yang dihadirkan oleh (JPU) yaitu Dr. Trubus Rahardiansyah merupakan dosen tetap fakultas hukum Universitas Trisakti Jakarta, keahliannya adalah dalam bidang sosiologi hukum.

"Berita bohong dalam sosiologi hukum adalah menyiarkan informasi yang tidak sesuai dengan realita atau menyesatkan masyarakat," tutur Trubus kepada ketua majelis hakim Iqbal Hutabarat.

Selanjutnya Trubus mengungkapkan terdapat tingkatan dari bentuk keonaran, dan tidak hanya menimbulkan kerugian fisik tetapi juga dapat menimbulkan kerugian non fisik.

"Keonaran adalah kondisi tidak kondusif pertama, lalu tindakan selanjutnya adalah naik ke tingkat kekacauan, selanjutnya adalah tingkat prilaku anarkis dan terkahir adalah tindakan anomie merupakan tingkat puncaknya," ujar Trubus.

"Di dalam delik orang berkerumun dalam kasus ini tidak ada kerugian materil tetapi terdapat kerugian kecemasan perasaan secara psikis," pungkasnya

Terdakwa Adam mengajukan pertanyaan kepada Trubus sebagai ahli sosiologi, bahwa tindakan yang dilakukan bisa terlepas dari jeratan hukum, karena telah melakukan permohonan maaf kepada masyarakat karena telah menyebarkan berita bohong.

Halaman
1 2 3
Editor: Khomsu Rijal
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler