LPA Banten Minta Pemerintah Usut Tuntas Kasus Eksploitasi Balita jadi Manusia Silver 

Minggu, 3 Oktober 2021 19:45 WIB

Share
Balita sebagai manusia silver. (Ist instagram)

SERANG, POSKOTA.CO.ID  - Eksploitasi anak-anak di bawah umur serta Balita yang belakangan terjadi mendapat perhatian khusus dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten.Seperti ada bayi usia di bawah 10 bulan dieksploitasi ekonomi dengan cara dicat silver tubuhnya lalu dibawa mengemis di jalanan.

Ketua LPA Banten Iip Syafrudin saat dikonfirmasi, Minggu (3/10/2021) mengatakan, kasus itu merupakan suatu tindakan yang bukan hanya tentang melanggar hak, merendahkan harkat dan martabat anak, tetapi lebih dari itu, memporak-porandakan sejumlah aturan hukum tentang perlindungan anak di Indonesia.

"Dan kondisi tersebut menjadi semakin dibuat permisif oleh sedemikian banyak warga masyarakat, tatkala mata kita dengan jelas melihat kejadian tersebut di jalanan," jelasnya.

Menurut Iip, spesifik tentang perlindungan bagi anak dan atau bayi yang dijadikan manusia silver, sudah diatur dalam UU No.35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Peraturan Pemerintah No 78 tahun 2021 tentang Perlindungan Khusus Bagi Anak. Serta jika terdapat di daerah tersebut yaitu Peraturan Daerah tentang Perlindungan Anak.

"Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa anak korban eksploitasi ekonomi adalah termasuk ke dalam Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus (AMPK)," katanya.

Iip menambahkan, dengan diperlakukan seperti itu, bayi tersebut serta sejumlah anak-anak lainnya yang dipaksa dicat tubuhnya lalu kemudian dijadikan tameng untuk mengemis dalam rangka menimbulkan iba bagi masyarakat, jelas, bahwa anak tersebut korban eksploitasi ekonomi. Dan Negara, Pemerintah dan segenap masyarakat diwajibakn untuk melakukan intervensi sesuai dengan kewenangannya.

"Ancaman hukuman bagi pelaku sangat jelas dalam UU tersebut. Bahkan jika pelakunya adalah orang tua, wali atau pengasuh anak, maka ada penambahan hukuman yang diatur oleh UU, dan hak kuasa asuh dicabut atau dialihkan untuk sementara waktu," ungkapnya.

Diakui Iip, kekhawatirannya pun terjadi. Kondisi terkini, bahkan jaringan para pelaku pengeksploitasi anak itu sudah menghilang dari daerah tersebut. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa mereka sebenarnya menyadari dan ketakutan karena merasa bersalah memperlakukan anak-anak dijadikan manusia silver seperti itu.

"Kami mengharapkan atensi besar pada pemerintah terkhusus aparatur Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan, dengan segenap sumberdaya yang ada, agar berupaya maksimal dalam upaya mengungkap jaringan pengeksploitasi tersebut," jelasnya. (Luthfillah) 

Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler