Selama Pandemi Justru Meningkat 57%, Nilai Ekspor Produk Agribisnis di Balai Karantina Pertanian Cilegon Capai Rp 720 Miliar 

Minggu, 11 Juli 2021 19:01 WIB

Share
Petugas dari BKP Cilegon memeriksa produk agribisnis sebelum diekspor ke sejumlah negara. (ist)

CILEGON, POSKOTA.CO.ID- Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon, Banten merilis adanya peningkatan yang signifikan pada performa kinerja ekspor produk agribisnis di wilayah kerja Balai Karantina Pertanian Cilegon.

Tercatat sepanjang Januari sampai dengan Juni, semester 1/2021 sebanyak 553 sertifikat ekspor diterbitkan dengan total nilai mencapai Rp 720 miliar atau meningkat 57 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat Rp 458 miliar saja.

"Kami mengapresiasi kinerja para pelaku usaha agribisnis di wilayah Banten. Apalagi ini di masa pandemi Covid 19, performa ini harus kita jaga," ujar Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Arum Kusnila Dewi melalui keterangan tertulis yang diterima Minggu (11/7/2021).

Menurut Arum, dari data pada sistem IQFAST Barantan, sebelumnya di tahun 2020 ekspor pertanian di wilayahnya kerjanya juga naik sekitar 41 persen, dibandingkan pada periode  ditahun 2019 yang tercatat hanya  Rp 267 miliar.

"Sub sektor tanaman pangan menjadi penyumbang angka terbesar," terang Arum.

Secara rinci ia menyebutkan, sektor tanaman pangan pada periode ini tercatat menyumbang Rp 565 miliar rupiah, meningkat dibandingkan periode sama di tahun 2020 yang hanya Rp 316 miliar rupiah dan Rp 186 miliar saja ditahun 2019.

Kemudian disusul sebagai penyumbang ekspor tertinggi kedua adalah sub sektor perkebunan yang mencapai Rp 88 miliar  pada tahun 2021. Meski nilai pada tahun tersebut lebih rendah dari tahun 2020 yang telah mencapai Rp 99 miliar rupiah. 

Ragam komoditasnya berupa produk turunan dari gandum berupa dedak dan tepung serta produk olahan jagung, seperti  tepung jagung, corn germ, maltodektrine, corn gluten feed, corn gluten meal dan sirup fruktosa. 

Kemudian diikuti dari sub sektor kehutanan pada tahun ini mencapai Rp 67 miliar rupiah, sedangkan pada tahun 2020 sebesar Rp 37 miliar  dan Rp 48 miliar di tahun 2019.

"Ragam komoditas sub sektor perkebunan antara lain berupa gula, tebu dan karet lempengan. Sedangkan ragam komoditas dari sub sektor kehutanan di antaranya adalah olahan dari industri kayu. Di antaranya kayu lapis, furniture dan pallet kayu," tambah Arum.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler