Ada 2 Peristiwa Sejarah Penting Bersama Almarhum H.Harmoko yang Masih Melekat dalam Diri Wamenag  

Selasa, 6 Juli 2021 09:42 WIB

Share
Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi. (ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Meninggalnya tokoh nasional H.Harmoko pada Minggu (4/7/2021) masih menyisakan kesedihan bagi rekan-rekan sejawatnya. Ada kenangan sejarah  sepeninggal mantan Menteri Penerangan era Orde Baru itu  bagi Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi.

"Ada dua peristiwa penting yang menjadi pengalaman pribadi saya bersama Pak Harmoko. Kenangan ini sangat membekas dalam ingatan saya," kenang Zainut. 

Pertama, ungkap Zainut, di tahun 1988 saat Harmoko hadir di acara Kongres Ikatan Pelajar NU ke-IX di Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif  Denanyar Jombang, Jawa Timur.
      
 "Saat itu saya menjadi salah seorang peserta kongres mewakili utusan IPNU DKI Jakarta. Kongres tersebutlah yang memilih dan menetapkan saya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU untuk periode 1988 - 1993," ujar  Zainut  dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/7/2021).
   

Kedua, di tahun 1997 - 1999 ketika Harmoko menjadi Ketua DPR/MPR RI pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan BJ Habibie. 

"Banyak agenda kenegaraan yang sangat penting dan monumental pada periode tersebut. Antara lain berhentinya  Soeharto sebagai Presiden RI yang telah berkuasa selama 32 tahun, " ujarnya. 

Menurut Zainut, mundurnya  Soeharto tidak lepas dari peran  pendiri Harian Poskota yang saat itu menjabat sebagai ketua DPR/MPR RI meminta kepada Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri.

"Saat terjadinya peristiwa tersebut, saya menjadi anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PPP. Sehingga saya mengikuti peristiwa detik-detik lahirnya era baru yang disebut Era Reformasii," paparnya. 

 Seperti diketahui, saat terjadinya pergantian kepemimpinan nasional,  didahului dengan adanya gelombang besar demo mahasiswa dan  masyarakat di hampir seluruh wilayah Indonesia yang menuntut Soeharto mundur. Massa juga menduduki kompleks gedung DPR/MPR.

"Dalam pandangan saya,  Harmoko adalah  politisi yang matang. Memiliki wawasan  luas dan piawai dalam membangun komunikasi publik," jelasnya. 

Lebih lanjut dikatakan Zainut, karena latar belakangnya sebagai wartawan yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik, sehingga Harmoko memiliki insting  yang tidak hanya pandai membaca apa yang tersurat tapi juga pandai membaca apa yang tersirat.

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler